Turut Berduka Cita Untuk Para Wanita Yang Kehilangan Pria Baik Karena Tidak Mampu Menghargai Dan Menghormatinya

Daftar Isi


Ketika Seseorang Baru Menyadari Nilai Pria yang Baik Setelah Kehilangannya

Ada kalanya seseorang baru menyadari nilai sebuah hubungan setelah hubungan tersebut berakhir.

Ketika masih bersama, perhatian terasa biasa. Kesabaran dianggap sebagai sesuatu yang memang seharusnya diberikan. Batasan dianggap terlalu ketat. Nasihat dianggap sebagai bentuk mengontrol.

Namun setelah orang tersebut pergi, barulah muncul pertanyaan:

"Mengapa dulu aku tidak menghargainya?"

Kehilangan seseorang yang baik tidak selalu terjadi karena cinta sudah tidak ada. Terkadang, hubungan berakhir karena salah satu pihak terus-menerus melakukan sesuatu yang membuat hubungan tersebut tidak lagi sehat untuk dipertahankan.


1. Pria yang Baik Tetap Memiliki Batasan

Menjadi pria yang baik bukan berarti harus menerima semua perlakuan.

Seorang pria bisa mencintai pasangannya dengan tulus, tetapi tetap memiliki standar mengenai bagaimana dirinya ingin diperlakukan.

Dia bisa bersabar.

Dia bisa memaafkan.

Dia bisa memberikan kesempatan.

Tetapi kesabaran juga memiliki batas.

Contoh:

Seorang pria sudah berkali-kali mengatakan bahwa dia tidak nyaman ketika pasangannya melakukan sesuatu yang melanggar kesepakatan dalam hubungan.

Dia sudah membicarakannya dengan baik.

Namun hal tersebut terus diulangi.

Pada awalnya dia mungkin memilih diam.

Kemudian dia mencoba membicarakannya lagi.

Sampai akhirnya dia mengambil keputusan untuk pergi.

Bukan berarti dia tiba-tiba berhenti mencintai.

Dia mungkin pergi karena menyadari bahwa mencintai seseorang tidak berarti harus terus menerima perlakuan yang menyakitinya.


2. Jangan Menguji Kesabaran Pasangan Tanpa Batas

Dalam sebuah hubungan, menguji pasangan mungkin terlihat seperti hal kecil.

Misalnya sengaja membuatnya cemburu.

Sengaja mengabaikannya.

Sengaja melanggar kesepakatan untuk melihat reaksinya.

Atau sengaja melakukan sesuatu yang kamu tahu akan membuatnya kecewa.

Mungkin kamu berpikir:

"Kalau dia benar-benar mencintaiku, dia pasti akan tetap bertahan."

Masalahnya, tidak ada manusia yang memiliki kesabaran tanpa batas.

Semakin sering seseorang diuji, semakin besar kemungkinan dia akhirnya merasa bahwa hubungan tersebut tidak lagi memberikan ketenangan.

Cinta bukan kompetisi untuk melihat siapa yang paling tahan disakiti.


3. Ketika Batasan Terus-Menerus Dilanggar

Setiap hubungan membutuhkan batasan.

Batasan bukan berarti seseorang ingin menguasai pasangannya.

Batasan berarti kedua orang memahami apa yang dianggap pantas dan tidak pantas dalam hubungan mereka.

Contohnya:

Keduanya sepakat untuk saling terbuka mengenai hubungan dengan lawan jenis.

Namun salah satu pihak terus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kesepakatan tersebut.

Ketika pasangannya menyampaikan keberatan, dia justru mengatakan:

"Kamu terlalu mengontrol."

Padahal mungkin persoalan sebenarnya bukan tentang kontrol.

Persoalannya adalah apakah kesepakatan yang sudah dibuat bersama masih dihormati atau tidak.


4. Jangan Menunggu Seseorang Pergi Baru Menghargainya

Kesalahan yang sering terjadi dalam hubungan adalah menganggap seseorang akan selalu tersedia.

Selama dia masih bertahan, kamu merasa semuanya aman.

Dia selalu ada ketika kamu membutuhkan.

Dia selalu menjawab pesan.

Dia selalu memberikan kesempatan.

Dia selalu mencoba memperbaiki masalah.

Akibatnya, keberadaannya mulai terasa biasa.

Kemudian suatu hari dia benar-benar pergi.

Barulah kamu menyadari:

"Ternyata selama ini dia sangat berarti."

Inilah mengapa seseorang sebaiknya tidak menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.

Hargai orang yang masih memilih untuk berada di sampingmu.


5. Apakah Pria Pergi Karena Sudah Tidak Mencintai?

Tidak selalu.

Ada pria yang pergi meskipun masih memiliki perasaan.

Mengapa?

Karena cinta saja tidak cukup untuk membuat sebuah hubungan bertahan.

Seseorang bisa mencintaimu tetapi tetap menyadari bahwa hubungan tersebut tidak sehat.

Dia bisa merindukanmu tetapi tetap memilih pergi.

Dia bisa masih peduli tetapi menyadari bahwa dirinya tidak lagi bahagia.

Contoh:

Seorang pria masih mencintai pasangannya.

Tetapi setiap kali terjadi masalah, dia selalu direndahkan.

Setiap batasan yang dia sampaikan tidak dihargai.

Setiap usaha memperbaiki hubungan justru berakhir dengan pertengkaran.

Pada akhirnya dia memilih pergi.

Bukan karena perasaannya langsung menghilang.

Tetapi karena dia menyadari:

"Aku tidak bisa terus hidup dalam hubungan seperti ini."


6. Bedakan Pria yang Disiplin dengan Pria yang Mengontrol

Ada hal penting yang harus diperhatikan.

Tidak semua pria yang memiliki standar tinggi adalah pria yang baik.

Dan tidak semua pria yang tegas otomatis berarti mengontrol.

Begitu juga sebaliknya.

Pria yang disiplin biasanya memiliki standar untuk dirinya sendiri dan mampu menyampaikan batasan secara sehat.

Pria yang mengontrol ingin menentukan hampir semua keputusan pasangannya.

Misalnya:

Sehat:

"Aku tidak nyaman dengan hubungan seperti ini. Kalau kita ingin melanjutkan, kita perlu menyepakati batasan yang bisa kita berdua terima."

Tidak sehat:

"Kamu tidak boleh berteman dengan siapa pun yang aku tidak sukai."

Perbedaannya adalah menghormati kebebasan dan pilihan pasangan.

Hubungan yang sehat tidak membutuhkan seseorang menjadi penguasa dan seseorang lainnya menjadi bawahan.


7. Pria Baik Bukan Pria yang Selalu Mengalah

Ada anggapan bahwa pria yang baik harus selalu memaafkan.

Harus selalu mengerti.

Harus selalu bertahan.

Harus selalu memberikan kesempatan.

Padahal tidak demikian.

Pria yang baik juga boleh berkata:

"Aku tidak bisa menerima perlakuan seperti ini."

Dia boleh pergi.

Dia boleh mengatakan tidak.

Dia boleh mempertahankan harga dirinya.

Kebaikan tanpa batas bisa berubah menjadi pengorbanan diri yang tidak sehat.

Menjaga hubungan penting.

Tetapi menjaga martabat dan kesehatan emosional juga penting.


8. Jangan Menyadari Nilai Seseorang Setelah Dia Pergi

Bayangkan kamu memiliki seseorang yang selalu mendukungmu.

Dia mendengarkan ceritamu.

Dia hadir ketika kamu mengalami masalah.

Dia berusaha menyelesaikan konflik.

Dia menghormati hubungan.

Namun karena semuanya terasa biasa, kamu tidak pernah benar-benar menghargainya.

Kemudian hubungan berakhir.

Setelah beberapa waktu, kamu bertemu orang lain.

Kamu menyadari bahwa orang baru tersebut tidak memberikan hal yang sama.

Tidak sabar.

Tidak konsisten.

Tidak menghargai hubungan.

Kemudian kamu mulai membandingkan.

"Mantan saya dulu ternyata jauh lebih baik."

Inilah pelajaran yang sering datang terlambat.

Jangan menilai seseorang hanya dari apa yang kamu rasakan ketika dia masih berada di sisimu.


9. "Aku Pantas Mendapatkan yang Lebih Baik" Tidak Selalu Berarti Kamu Sudah Bertumbuh

Setelah sebuah hubungan berakhir, seseorang mungkin berkata:

"Aku sekarang sudah mendapatkan pasangan yang lebih baik."

Bisa saja benar.

Tetapi pergantian pasangan tidak otomatis berarti pertumbuhan.

Pertumbuhan terjadi ketika seseorang belajar dari kesalahan masa lalu.

Belajar berkomunikasi.

Belajar menghormati batasan.

Belajar bertanggung jawab.

Belajar menghargai pasangan.

Kalau seseorang hanya mengganti pasangan tanpa mengubah perilakunya, masalah yang sama bisa muncul kembali.

Berganti orang bukan selalu berarti bertumbuh.

Terkadang pertumbuhan justru dimulai ketika seseorang berani mengakui:

"Aku juga memiliki kesalahan dalam hubungan sebelumnya."


10. Jangan Hanya Menilai Siapa yang Pergi

Ketika sebuah hubungan berakhir, kita sering mencari siapa yang salah.

Pria pergi?

"Wanita itu pasti buruk."

Wanita pergi?

"Pria itu pasti tidak cukup baik."

Padahal kenyataannya bisa jauh lebih kompleks.

Ada hubungan yang berakhir karena kedua pihak sama-sama melakukan kesalahan.

Ada hubungan yang berakhir karena tujuan hidup berbeda.

Ada hubungan yang berakhir karena komunikasi yang buruk.

Ada juga hubungan yang memang sudah tidak sehat.

Karena itu, jangan menjadikan cerita ini sebagai alasan untuk menyalahkan seluruh pria atau seluruh wanita.

Yang lebih penting adalah memahami perilaku dan pola hubungan tersebut.


Kesimpulan

Apakah seorang wanita bisa kehilangan pria yang baik karena tidak menghargainya?

Tentu bisa.

Tetapi hal yang sama juga bisa terjadi sebaliknya.

Seorang pria juga bisa kehilangan wanita yang baik karena tidak menghargai, mendengarkan, atau menghormatinya.

Hubungan bukan tentang siapa yang lebih berkuasa.

Bukan tentang siapa yang harus selalu menurut.

Dan bukan tentang siapa yang harus menanggung lebih banyak.

Hubungan yang sehat dibangun oleh dua orang yang sama-sama menghargai keberadaan satu sama lain.

Jangan menguji seseorang hanya untuk mengetahui seberapa besar cintanya.

Jangan terus-menerus melanggar batasan lalu terkejut ketika dia akhirnya pergi.

Dan jangan menunggu seseorang meninggalkanmu untuk menyadari betapa berharganya dia.

Karena terkadang, orang yang paling kita anggap akan selalu ada justru menjadi orang yang akhirnya memilih pergi.

Bukan karena dia tidak pernah mencintai.

Tetapi karena dia akhirnya memahami bahwa cinta tanpa rasa hormat, kepercayaan, dan penghargaan tidak cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan.

Jadi, sebelum kehilangan seseorang yang baik, tanyakan kepada dirimu sendiri:

"Apakah aku sedang menghargai orang yang ada di sampingku, atau baru akan menghargainya setelah dia tidak lagi ada?"

Karena kehilangan seseorang mungkin bisa diterima.

Tetapi penyesalan karena menyadari nilainya ketika semuanya sudah terlambat adalah sesuatu yang jauh lebih sulit untuk diperbaiki.

Posting Komentar