Tidak Setiap Wanita Yang Kamu Temui Pantas Menjadi Istri Kamu
Tidak Semua Wanita Cocok Menjadi Istri, Kenali Kecocokan Sebelum Menikah
Tidak setiap wanita yang kamu temui harus berakhir menjadi istrimu.
Begitu juga sebaliknya, tidak setiap pria yang terlihat menarik, perhatian, atau memiliki banyak kelebihan otomatis cocok menjadi seorang suami.
Pernikahan bukan sekadar tentang rasa cinta. Pernikahan adalah tentang bagaimana dua orang membangun kehidupan bersama, menghadapi masalah, menghargai perbedaan, menjaga kepercayaan, dan menciptakan kedamaian di dalam rumah.
Karena itu, sebelum menikah, jangan hanya bertanya:
"Apakah aku mencintainya?"
Tetapi tanyakan juga:
"Apakah kami bisa saling menghormati dan bekerja sama ketika kehidupan tidak berjalan sesuai keinginan?"
1. Tidak Semua Wanita Cocok Menjadi Istri
Ada seseorang yang mungkin sangat menyenangkan untuk diajak berkencan, tetapi belum tentu memiliki nilai dan tujuan hidup yang cocok untuk pernikahan.
Menjadi kekasih dan menjadi pasangan hidup adalah dua hal yang berbeda.
Ketika masih berpacaran, seseorang mungkin hanya melihat sisi terbaik dari pasangannya.
Namun setelah menikah, kamu akan berhadapan dengan hal-hal yang jauh lebih nyata:
- masalah keuangan,
- tekanan pekerjaan,
- perbedaan pendapat,
- keluarga besar,
- pembagian tanggung jawab,
- perubahan kondisi hidup,
- dan berbagai masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan romantisme.
Karena itu, jangan memilih pasangan hanya berdasarkan perasaan.
Lihat juga karakter, nilai hidup, kedewasaan, dan cara dia menghadapi masalah.
Contoh:
Seorang wanita mungkin sangat romantis ketika sedang berkencan.
Dia perhatian, menyenangkan, dan selalu membuatmu merasa dicintai.
Tetapi ketika muncul masalah, dia selalu menyalahkanmu, tidak mau berdiskusi, merendahkanmu, atau membuat setiap perbedaan pendapat menjadi pertengkaran.
Maka kamu perlu bertanya:
Apakah sifat seperti itu bisa kalian hadapi selama puluhan tahun dalam pernikahan?
2. Pasangan Hidup Harus Menjadi Rekan, Bukan Lawan
Pernikahan seharusnya bukan arena untuk menentukan siapa yang paling berkuasa.
Suami dan istri adalah dua orang yang memiliki tanggung jawab berbeda, tetapi keduanya tetap merupakan rekan dalam membangun keluarga.
Karena itu, seorang istri idealnya mampu menghormati suaminya.
Namun rasa hormat tidak berarti harus selalu diam, tidak boleh memiliki pendapat, atau harus mengikuti semua keputusan suami tanpa berdiskusi.
Begitu juga dengan seorang suami.
Dia juga harus menghormati istrinya, mendengarkan pendapatnya, mempertimbangkan perasaannya, dan tidak menggunakan status sebagai suami untuk mengontrol atau merendahkan.
Pernikahan yang sehat bukan tentang siapa yang menang dalam setiap perdebatan.
Pernikahan yang sehat adalah ketika keduanya mencari solusi yang terbaik untuk keluarga.
3. Jangan Menikahi Seseorang yang Selalu Menjadikanmu Musuh
Perbedaan pendapat adalah hal normal dalam hubungan.
Tidak ada pasangan yang selalu sepakat.
Masalahnya bukan pada adanya perbedaan.
Masalahnya adalah bagaimana perbedaan tersebut diselesaikan.
Ada pasangan yang berbeda pendapat lalu duduk bersama dan mencari solusi.
Ada juga pasangan yang setiap perbedaan berubah menjadi saling menghina, berteriak, mengancam, atau sengaja menyakiti.
Jika setiap masalah selalu berubah menjadi peperangan, kehidupan rumah tangga bisa menjadi sangat melelahkan.
Contoh:
Kamu dan pasangan berbeda pendapat tentang penggunaan uang.
Pasangan pertama berkata:
"Aku punya pandangan berbeda. Bagaimana kalau kita hitung bersama dan cari jalan tengah?"
Pasangan kedua berkata:
"Pokoknya harus mengikuti caraku. Kalau tidak, kita bertengkar."
Perbedaannya bukan sekadar soal uang.
Yang sedang terlihat adalah cara mereka menyelesaikan konflik.
4. Kedamaian Rumah Tangga Sangat Berharga
Banyak orang baru memahami nilai kedamaian setelah mereka kehilangan kedamaian tersebut.
Rumah seharusnya menjadi tempat seseorang bisa beristirahat dari tekanan dunia, bukan tempat dia merasa harus terus-menerus berperang.
Namun kedamaian tidak berarti rumah tangga tidak boleh memiliki konflik.
Konflik pasti ada.
Yang penting adalah apakah konflik tersebut diselesaikan dengan kedewasaan.
Seorang pasangan yang mampu berkata:
"Kita sedang marah. Mari kita tenangkan diri dulu, kemudian kita bicarakan."
jauh lebih mudah diajak membangun kehidupan bersama daripada seseorang yang menjadikan setiap masalah sebagai kesempatan untuk saling menghancurkan.
5. Perhatikan Bagaimana Dia Memperlakukanmu Saat Marah
Jangan hanya melihat bagaimana seseorang memperlakukanmu ketika sedang bahagia.
Perhatikan juga bagaimana dia bersikap ketika marah, kecewa, atau tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Karena karakter seseorang sering kali terlihat ketika emosinya sedang diuji.
Apakah dia masih bisa menghormati?
Apakah dia masih bisa berbicara dengan baik?
Apakah dia mampu meminta maaf?
Apakah dia mau mengakui kesalahannya?
Atau dia langsung merendahkan, mengancam, mempermalukan, dan menggunakan kelemahanmu untuk menyerangmu?
Kemampuan mengendalikan emosi adalah salah satu kualitas penting dalam kehidupan pernikahan.
6. Jangan Mencari Istri yang Hanya Menurut
Ada satu hal yang perlu diluruskan.
Mencari wanita yang "mendengarkan suami" bukan berarti mencari wanita yang tidak memiliki suara.
Seorang pria justru membutuhkan pasangan yang berani memberikan pendapat dengan cara yang baik.
Terkadang seorang istri bisa melihat sesuatu yang tidak dilihat suaminya.
Terkadang dia bisa memberikan nasihat yang menyelamatkan keluarga dari keputusan yang buruk.
Karena itu, pasangan yang baik bukanlah seseorang yang selalu berkata:
"Iya, terserah kamu."
Pasangan yang baik adalah seseorang yang mampu berkata:
"Aku menghargai keputusanmu, tetapi menurutku ada hal yang perlu kita pertimbangkan terlebih dahulu."
Itu bukan pemberontakan.
Itu adalah komunikasi.
7. Begitu Juga, Jangan Menjadi Suami yang Suka Mengontrol
Pria juga harus bercermin.
Jika kamu menginginkan wanita yang menghormatimu, maka kamu juga harus menjadi pria yang layak dihormati.
Jangan menuntut pasangan untuk patuh sementara kamu sendiri tidak mau mendengarkannya.
Jangan meminta kesetiaan sementara kamu sendiri tidak menjaga batasan.
Jangan menuntut komunikasi yang baik sementara setiap kali dia menyampaikan pendapat, kamu justru marah.
Hubungan yang sehat membutuhkan rasa hormat dari dua arah.
8. Pilih Pasangan Berdasarkan Karakter, Bukan Hanya Ketertarikan
Ketertarikan fisik bisa membuat seseorang tertarik untuk memulai hubungan.
Tetapi karakterlah yang akan menentukan apakah hubungan tersebut mampu bertahan.
Sebelum menikah, perhatikan:
Bagaimana dia memperlakukan orang lain?
Bagaimana dia menghadapi masalah?
Bagaimana dia mengelola uang?
Bagaimana dia berbicara ketika sedang marah?
Bagaimana hubungannya dengan keluarga?
Apakah dia bisa mengakui kesalahan?
Apakah dia menghargai batasan?
Apakah nilai hidup kalian sejalan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar:
"Apakah aku merasa nyaman bersamanya?"
9. Satu Keputusan yang Salah Bisa Membawa Konsekuensi Besar
Menikah adalah keputusan besar.
Karena itu, jangan terburu-buru hanya karena takut kehilangan seseorang.
Jangan menikah karena usia.
Jangan menikah karena tekanan keluarga.
Jangan menikah hanya karena hubungan sudah berlangsung lama.
Dan jangan menikah hanya karena kamu takut memulai kembali.
Lebih baik menggunakan waktu untuk benar-benar mengenal seseorang daripada terburu-buru masuk ke dalam pernikahan yang ternyata tidak memiliki fondasi yang kuat.
Namun ingat, tidak ada manusia yang sempurna.
Kamu juga tidak sempurna.
Mencari pasangan bukan berarti mencari seseorang tanpa kekurangan.
Yang perlu dicari adalah seseorang yang memiliki karakter baik, bersedia bertumbuh, mampu berkomunikasi, dan mau membangun kehidupan bersama.
Kesimpulan
Tidak semua wanita yang kamu temui cocok menjadi istrimu.
Tetapi jangan pula menilai seorang wanita hanya berdasarkan apakah dia selalu menurut atau tidak.
Carilah pasangan yang bisa menjadi rekan hidup.
Seseorang yang menghormatimu tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Seseorang yang mampu menyampaikan pendapat tanpa merendahkanmu.
Seseorang yang bisa berbeda pendapat tanpa menjadikanmu musuh.
Seseorang yang mau mendengarkan, tetapi juga mampu memberikan nasihat.
Dan yang paling penting, seseorang yang bersedia membangun kehidupan bersamamu dengan rasa hormat, kepercayaan, dan tanggung jawab.
Begitu juga denganmu.
Sebelum mencari wanita yang tepat untuk menjadi istri, pastikan kamu juga sedang berusaha menjadi pria yang tepat untuk menjadi suami.
Karena pernikahan bukan tentang menemukan orang yang sempurna.
Pernikahan adalah tentang menemukan seseorang yang bersedia tumbuh bersamamu, lalu bersama-sama membangun kehidupan yang layak dipertahankan.

Posting Komentar