Apa Yang Kamu Takuti?
Apa yang Sebenarnya Kamu Takutkan?
Apa yang sebenarnya kamu takutkan?
Kematian?
Tentu, kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tetapi bagaimana dengan rasa malu? Bagaimana dengan kegagalan? Bagaimana dengan kehilangan sesuatu yang selama ini kamu miliki?
Sering kali kita memberikan terlalu banyak kekuatan kepada hal-hal yang sebenarnya hanya sementara.
Kamu malu hari ini?
Kemungkinan besar, seminggu kemudian tidak ada yang membicarakannya lagi.
Kamu gagal?
Kamu masih bisa belajar dan mencoba kembali.
Kamu kehilangan sesuatu?
Kamu masih bisa membangun kembali dari awal.
Karena itu, jangan biarkan rasa takut menghentikan langkahmu.
Teruslah bergerak.
1. Jangan Terlalu Takut pada Penilaian Orang Lain
Salah satu alasan banyak orang tidak pernah mencoba adalah karena terlalu takut terhadap pendapat orang lain.
Takut dianggap bodoh.
Takut gagal.
Takut terlihat berbeda.
Takut ditertawakan.
Takut tidak diterima.
Padahal, sebagian besar orang terlalu sibuk memikirkan hidup mereka sendiri untuk terus memikirkan kesalahanmu.
Bayangkan kamu melakukan kesalahan ketika berbicara di depan banyak orang.
Mungkin kamu merasa sangat malu.
Kamu memikirkannya sepanjang malam.
Kamu bahkan mungkin mengulang kejadian tersebut berkali-kali di dalam kepala.
Tetapi orang lain?
Besok mereka sudah kembali sibuk dengan kehidupan masing-masing.
Contoh:
Kamu ingin membuat konten, tetapi takut teman-temanmu menertawakanmu.
Akhirnya kamu tidak pernah memulai.
Satu tahun kemudian, kamu masih berada di tempat yang sama.
Sementara orang yang berani memulai meskipun ditertawakan sudah memiliki pengalaman, kemampuan, dan mungkin telah membangun sesuatu yang besar.
Rasa malu hanya berlangsung sementara. Penyesalan karena tidak pernah mencoba bisa bertahan jauh lebih lama.
2. Introvert Bukan Alasan untuk Mengisolasi Diri
Menjadi orang yang pendiam atau introvert bukan sesuatu yang harus kamu benci.
Kamu tidak harus berubah menjadi orang yang paling banyak bicara di ruangan.
Tetapi kemampuan berkomunikasi tetap penting.
Dunia tidak selalu memberikan kesempatan kepada orang yang hanya menunggu.
Kadang-kadang kamu harus membuka percakapan terlebih dahulu.
Sapa orang.
Tanyakan sesuatu.
Dengarkan cerita mereka.
Bangun hubungan.
Karena kamu tidak pernah tahu siapa yang akan kamu temui dalam perjalanan hidupmu.
Seseorang yang kamu temui secara kebetulan hari ini bisa menjadi teman, rekan kerja, mentor, pelanggan, atau partner bisnis di masa depan.
Koneksi sering kali dimulai dari percakapan sederhana.
3. Mulailah Membangun Jaringan
Networking bukan berarti kamu harus mendekati orang hanya karena ingin mendapatkan keuntungan.
Networking yang sehat adalah tentang membangun hubungan.
Ketika berada di sebuah acara, jangan selalu berdiri sendirian sambil melihat ponsel.
Cobalah berbicara dengan orang di sebelahmu.
Tanyakan:
"Kamu datang dari mana?"
"Apa yang membuatmu tertarik datang ke acara ini?"
"Kamu bekerja di bidang apa?"
Percakapan sederhana bisa berkembang menjadi sesuatu yang tidak pernah kamu bayangkan.
Contoh:
Kamu menghadiri seminar bisnis.
Awalnya kamu hanya ingin mendengarkan pembicara.
Kemudian kamu berbicara dengan seseorang setelah acara selesai.
Ternyata dia sedang membangun bisnis yang membutuhkan kemampuan yang kamu miliki.
Percakapan lima menit tersebut akhirnya membuka peluang kerja sama yang tidak pernah kamu rencanakan.
Kamu tidak akan pernah mengetahui peluang apa yang ada di depanmu jika kamu tidak pernah membuka mulut untuk memulai percakapan.
4. "Mulut yang Tertutup Tidak Akan Mendapat Makanan"
Kalimat ini sederhana, tetapi memiliki makna yang kuat.
Jika kamu tidak pernah berbicara, bertanya, menawarkan diri, atau menyampaikan keinginanmu, jangan heran jika banyak kesempatan melewatimu.
Kamu ingin pekerjaan?
Lamar.
Kamu ingin membangun bisnis?
Tawarkan produkmu.
Kamu ingin mendapatkan mentor?
Hubungi orang yang ingin kamu pelajari.
Kamu ingin membangun hubungan?
Mulailah berbicara.
Tentu saja, berbicara bukan jaminan bahwa kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan.
Tetapi jika kamu tidak pernah mencoba, kemungkinan mendapatkannya hampir tidak ada.
Kesempatan sering kali datang kepada orang yang berani mengambil langkah pertama.
5. Kesuksesan Memiliki Harga
Banyak orang hanya melihat hasil akhir seseorang.
Mereka melihat bisnis yang sukses.
Mereka melihat kehidupan yang nyaman.
Mereka melihat pencapaian.
Mereka melihat nama yang dikenal banyak orang.
Tetapi mereka tidak melihat proses panjang di belakangnya.
Mereka tidak melihat malam-malam ketika orang tersebut bekerja sendirian.
Mereka tidak melihat kegagalan.
Mereka tidak melihat penolakan.
Mereka tidak melihat tahun-tahun ketika tidak ada seorang pun yang percaya kepadanya.
Setiap orang memiliki harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang ingin mereka capai.
Namun harga tersebut berbeda untuk setiap orang.
Bagi seseorang, harganya mungkin berupa waktu.
Bagi yang lain, mungkin berupa kenyamanan.
Bagi yang lain lagi, mungkin berupa kesempatan untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya mereka sukai.
Kesuksesan tidak selalu membutuhkan penderitaan, tetapi hampir selalu membutuhkan pengorbanan dan konsistensi.
6. Jangan Menganggap Kesendirian Selalu Berarti Kegagalan
Ada fase dalam kehidupan ketika kamu harus berjalan lebih banyak sendirian.
Teman mungkin tidak memahami pilihanmu.
Keluarga mungkin mempertanyakan keputusanmu.
Orang lain mungkin menganggapmu terlalu ambisius.
Pada fase seperti ini, kamu mungkin merasa sendirian.
Tetapi kesendirian tidak selalu berarti kamu berada di jalan yang salah.
Kadang-kadang kamu hanya sedang berada dalam proses yang belum dipahami orang lain.
Contoh:
Kamu memutuskan untuk mengurangi waktu bermain dan hiburan karena ingin fokus membangun bisnis.
Teman-temanmu mungkin tidak mengerti.
Mereka mungkin berkata:
"Kenapa kamu sekarang jarang ikut?"
Namun kamu tahu apa yang sedang kamu bangun.
Bukan berarti kamu harus menjauh dari semua orang.
Tetapi kamu harus mampu mengatakan tidak terhadap sesuatu yang menghambat tujuanmu.
7. Jangan Mengorbankan Keluarga Tanpa Alasan
Ada satu hal yang juga perlu dipahami.
Kerja keras bukan berarti kamu harus menghilangkan seluruh kehidupanmu.
Kesuksesan tidak harus dibayar dengan kehilangan semua orang yang kamu cintai.
Jika kamu sedang mengejar tujuan besar, belajarlah mengatur waktu.
Bekerja keras, tetapi tetap menjaga hubungan yang penting.
Membangun karier, tetapi jangan melupakan keluarga.
Mengejar impian, tetapi jangan sampai kehilangan dirimu sendiri dalam prosesnya.
Ambisi membutuhkan disiplin, bukan kehancuran diri.
8. Seorang Pria Menjadi Budak dari Hal yang Tidak Bisa Dia Tinggalkan
Ini adalah salah satu bagian paling penting dari pesan tersebut.
Apa pun yang tidak mampu kamu kendalikan pada akhirnya bisa mengendalikanmu.
Bisa berupa:
hiburan,
media sosial,
perjudian,
kebiasaan buruk,
validasi dari orang lain,
hubungan yang tidak sehat,
atau kesenangan yang berlebihan.
Masalahnya bukan karena semua kesenangan tersebut selalu buruk.
Masalah muncul ketika kamu tidak mampu berhenti meskipun kamu tahu hal tersebut sedang merusak hidupmu.
Contoh:
Kamu tahu terlalu banyak bermain media sosial membuat produktivitasmu turun.
Tetapi setiap kali ingin bekerja, tanganmu kembali membuka aplikasi.
Satu jam berlalu.
Kemudian dua jam.
Kamu kehilangan fokus.
Dalam situasi tersebut, masalah sebenarnya bukan aplikasinya.
Masalahnya adalah kamu kehilangan kendali atas kebiasaanmu sendiri.
9. Taklukkan Dirimu Sendiri Terlebih Dahulu
Banyak orang ingin menguasai keadaan.
Mereka ingin mengubah orang lain.
Mereka ingin mendapatkan lebih banyak uang.
Mereka ingin dihormati.
Mereka ingin memiliki kehidupan yang lebih baik.
Tetapi sebelum menaklukkan dunia di luar dirimu, kamu harus belajar mengendalikan dunia di dalam dirimu.
Belajar bangun ketika kamu ingin terus tidur.
Belajar bekerja ketika kamu sedang tidak bersemangat.
Belajar mengatakan tidak ketika sesuatu menggoda.
Belajar berhenti ketika sesuatu sudah berlebihan.
Belajar konsisten ketika hasil belum terlihat.
Disiplin adalah kemampuan untuk melakukan apa yang perlu dilakukan meskipun perasaanmu mengatakan sebaliknya.
10. Jangan Menunggu Sampai Kamu Tidak Takut
Banyak orang berpikir mereka harus menunggu sampai percaya diri sebelum bertindak.
Padahal sering kali justru sebaliknya.
Kamu bertindak terlebih dahulu, kemudian kepercayaan diri tumbuh dari pengalaman.
Kamu takut berbicara?
Berbicara sedikit demi sedikit.
Takut membuat konten?
Buat satu.
Takut menawarkan produk?
Tawarkan kepada satu orang.
Takut gagal?
Coba dengan risiko yang bisa kamu tanggung.
Jangan menunggu rasa takut menghilang.
Belajarlah berjalan meskipun rasa takut masih ada.
Kesimpulan
Apa yang sebenarnya kamu takutkan?
Kematian memang tidak bisa kamu hindari.
Tetapi rasa malu?
Kegagalan?
Penolakan?
Kehilangan?
Semua itu adalah bagian dari kehidupan yang masih bisa kamu hadapi dan bangun kembali.
Jangan biarkan ketakutan terhadap pendapat orang lain membuatmu tidak pernah mencoba.
Berbicaralah. Bangun hubungan. Cari peluang. Belajar. Gagal. Bangkit. Ulangi.
Dan yang paling penting, jangan sampai kamu begitu sibuk ingin menaklukkan dunia tetapi lupa menaklukkan dirimu sendiri.
Karena pada akhirnya, musuh terbesar seorang pria sering kali bukan orang lain.
Melainkan ketidakmampuannya mengendalikan dirinya sendiri.
Jika kamu mampu mengendalikan waktu, kebiasaan, keinginan, emosi, dan tindakanmu, kamu sudah memenangkan salah satu pertempuran terpenting dalam hidup.
Taklukkan dirimu sendiri terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kamu memiliki fondasi untuk membangun kehidupan yang kamu inginkan.

Posting Komentar